Resensi Buku The Principalship “A Reflektive Practice Perspective” Fifth Edition

Thomas J. Sergiovanni 
Resensi Buku 
The Principalship
“A Reflektive Practice Perspective”
Fifth Edition

Chapter 1 - Chapter 3

“Sebuah inspirasi Kepala Sekolah menjadi lebih baik”




Chapter 1
Setting the Stage: Administering as a mortal Craft

Kepemimpinan bersifat pribadi yang terdiri dari tiga dimensi utama yaitu  jantung, kepala, dan tangan. Jantung berkaitan dengan apa yang orang  percaya tentang nilai-nila, mimpi, komitmen dan  visi. Kepala  merefleksikan situasi yang dihadapi dikombinasikan dengan visi pribadi menjadi dasar untuk strategi dan tindakan. Tangan berkaitan dengan tindakan yang diambil, keputusan yang dibuat, sebagai strategi dalam bentuk program-program sekolah, kebijakan, dan prosedur.
1.      Rasionalitas Normatif.
Rasionalitas normatif adalah rasionalitas berdasarkan apa yang kita percaya dan apa yang kita anggap baik. Rasionalitas normatif memberikan dasar bagi kepemimpinan moral. Sedangkan rasionalitas teknis adalah rasionalitas berdasarkan apa yang efektif dan efisien. Kepala sekolah ingin apa yang baik dan apa yang efektif untuk sekolah mereka, tetapi ketika keduanya bertentangan, pilihan moral adalah yang terakhir.
2.      Delapan Kompetensi (Bennis, 1989).
Delapan kompetensi dasar kepala sekolah adalah manajemen perhatian, manajemen makna, manajemen kepercayaan, manajemen diri, manajemen paradoks, manajemen efektivitas, manajemen tindak lanjut, dan manajemen tanggung jawab.
3.      Followership adalah Tujuan
Seseorang tidak bisa menjadi pemimpin tanpa terlebih dahulu menjadi followership (pengikut). Zaleznik (1989) menunjukkan, bawahan dapat bekerja sama dengan sistem manajemen tapi jarang berkomitmen untuk itu. Sebaliknya, salah satu keunggulan dari pengikut adalah komitmen. Kelly (1988), para pengikut berkomitmen untuk tujuan organisasi, prinsip, atau orang di luar diri mereka. Bawahan sebaliknya, hanya melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Guru merespon dan mematuhi kepala sekolah bukan karena arahan kepala sekolah tetapi dari rasa kewajiban dan komitmen untuk nilai-nilai. Itulah yang artinya menjadi pengikut. Kepatuhan terjadi sebagai respons terhadap semacam otoritas. Empat sumber otoritas adalah; birokrasi, pribadi, profesional, dan moral.
4.      Tantangan Kepemimpinan
Tantangan kepemimpinan adalah untuk menyatukan dua hal penting yaitu manajerial dan moral. Sekolah harus dijalankan secara efektif dan efisien jika ingin bertahan hidup. Metode yang tepat akan menghasilkan hasil yang baik.
5.      Membangun Karakter Sekolah
Karakter adalah konsep yang mirip dengan budaya tapi lebih sedikit netral. Karakter adalah bagaimana sekolah dikenal dan dilihat oleh pihak luar dalam hal etika dan moral. Membangun dan meningkatkan karakter sekolah adalah kunci untuk membangun kredibilitas di antara siswa, guru, orang tua, administrator dan masyarakat luas. Tanpa kewajiban moral tidak ada karakter organisasi, dan tanpa karakter, sekolah tidak akan baik dan efektif (Sergiovanni, 2000, 2005).
6.      Komitmen untuk Nilai-Nilai Demokrasi
Salah satu tantangan kepemimpinan moral di sekolah adalah untuk melibatkan diri sendiri dan orang lain dalam proses pengambilan keputusan tanpa memikirkan kepentingan diri sendiri.
7.      Waktu, Perasaan, fokus
Vaill (1984), dalam kepemimpinan ketiganya harus berjalan beriringan; waktu tanpa perasaan atau fokus menunjukkan "gila kerja". Waktu dan perasaan tanpa fokus sering menyebabkan energi yang dihamburkan dan kekecewaan. Akhirnya, waktu dan fokus tanpa perasaan tampak kurang bergairah dan bergembira dalam bekerja.
8.      Kepemimpinan Pelayan
Kepala sekolah bertanggung jawab untuk "melayani" kebutuhan sekolah mereka. Kepala sekolah menjadi pelayanan untuk orang tua, guru, dan siswa.


Chapter 2
View of the Principal’s Job
1.    Konsepsi ideal Principalship
Kepala sekolah yang efektif, bertanggung jawab untuk perencanaan, pengorganisasian, memimpin, dan mengendalikan. Pada tahun 1997, National Association of Elementary School Principals (NAESP), memberikan delapan kategori yang menentukan kemahiran kepala sekolah; Perilaku Kepemimpinan, Kemampuan berkomunikasi, Proses Group,  Kurikulum dan Instruksi, Penilaian,  Manajemen Organisasi, Manajemen Fiskal, Manajemen Politik.
2.    Visi utama: Pendekatan nilai
Pendekatan ini mempunyai asumsi dan keyakinan dalam memberikan standar untuk menentukan apa yang baik dan buruk berdasar nilai/moral; efektif dan tidak efektif; dan dapat diterima atau tidak dapat diterima. Visi utama disertai dengan seperangkat janji bahwa kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua berjanji untuk membawa sekolah lebih dekat dengan visinya.
3.    Pendekatan Berbasis Standar
Penggunaan standar (apa yang harus dilakukan) dalam administrasi pendidikan umumnya didasarkan pada hasil penelitian tentang perilaku efektif principalship. Pada umumnya kepala sekolah tahu lebih banyak tentang pengajaran dan pembelajaran daripada guru karena kepala sekolah saat ini pindah ke posisi itu karena prestasi mereka sebagai guru, dan yang paling siap untuk mengambil peran kepemimpinan instruksional.
4.    Sekolah Paroki
Dimensi agama ditambahkan dari peran dan tanggung jawab kepala sekolah. Selain menjadi pemimpin pendidikan dan manajerial, kepala sekolah dari sekolah-sekolah agama diharapkan menjadi pemimpin spiritual.
5.    Sifat Kompleks Kerja Manajerial
Barth (1980) menggambarkan tanggung jawab kepala sekolah yaitu menjadi penyedia layanan sosial, layanan makanan, perawatan kesehatan, program rekreasi dan transportasi dengan pendidikan keterampilan yang solid.
6.    Tuntutan, Kendala, dan Pilihan
Rosemary Stewart (1982) Salah satu ciri khas dari seorang kepala sekolah yang sukses adalah kemampuannya untuk memperluas berbagai pilihan dengan mengurangi tuntutan dan kendala.
7.    Prioritas
Membuat sekolah aman dan mendorong guru dan siswa untuk melakukan yang terbaik adalah bagian yang paling penting dari pekerjaan kepala sekolah.
8.    Melihat ke Depan
Ada empat bidang interaksi peran strategis antara kepala sekolah dan guru: (1) resource provider, (2) instructional resource, (3) communicator, dan (4) visible presence. Idealnya kepala sekolah harus menjadi pemimpin instruksional yang fokus pada peningkatan prestasi belajar siswa. Agar hal ini dapat tercapai, pengawaspun seharusnya menjadi pemimpin instruksional yang berfokus pada prestasi dan hasil belajar siswa.
9.    Kepemimpinan Langsung dan Tidak Langsung
Kepala sekolah tidak hanya mengambil peran langsung dalam meningkatkan pembelajaran siswa mereka, namun peran tidak langsung juga. Mereka melaksanakan fungsi-fungsi yang memiliki sedikit hubungannya dengan belajar siswa, pengajaran yang efektif, atau menciptakan iklim yang kondusif. Contoh, ketika kepala sekolah bekerja untuk menyediakan kondisi dan sarana untuk belajar guru, prestasi siswa meningkat (Darling-Hammond, 1997). Ketika kepala sekolah menekankan pembangunan masyarakat belajar dan peduli efektif bagi guru di sekolah, pembelajaran guru meningkatkan, dan memberi manfaat pada prestasi siswa (Sergiovanni, 1994). Ketika kepala sekolah bekerja untuk menyediakan lingkungan yang aman, hormat, dan merawat siswa, prestasi siswa meningkatkan (Sebring et al., 1995, 1996). 


Chapter 3
The Limited of Traditional ManagementTheory
Kepala sekolah yang efektif memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana dunia pendidikan dan kepemimpinan sekolah bekerja.
1.      Praktek Mindscapes
Pilihan yang utama membuat sebagian besar tergantung pada dirinya atau teori atau praktek mindscapes. Mindscapes mempengaruhi apa yang kita lihat, percaya, dan lakukan. Tiga pandangan yang berbeda adalah mindscapes dari "Mistik," "Neats, dan" Scruffies”. Teori dan penelitian menurut pandangan mistik tidak ada hubungan apapun. Menurut pandangan neats, pengetahuan teoritis adalah atasan untuk menentukan praktek/tindakan. Sedangkan menurut pandangan scruffies, pengetahuan teoritis adalah bawahan untuk menentukan praktek/tindakan.
2.    Mengubah Mindscapes
Mengubah mindscape seseorang adalah sedikit seperti mengubah agama seseorang. Ketika dunia tidak dapat diubah agar sesuai dengan teori anda, lebih baik anda mengubah teori anda untuk menyesuaikan dunia. Manajemen dan kepemimpinan berkaitan dengan melakukan hal yang dianggap benar. Kepala sekolah yang sukses adalah manajer dan pemimpin yang efektif. Ketika otoritas birokrasi dan moral berada dalam konflik, otoritas moral harus selalu diutamakan.
3.    Batas Teori Manajemen Tradisional
Teori manajemen tradisional memiliki kelebihan dan keterbatasan.
1.        Teori manajemen tradisional cocok untuk situasi praktek yang ditandai dengan kondisi linear.
2.        Teori manajemen tradisional cocok untuk situasi praktek yang erat dan terstruktur.
3.        Teori manajemen tradisional cocok untuk situasi di mana ada kebutuhan untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja.
Sebagian besar interaksi manusia yang terjadi di sekolah dapat digambarkan sebagai kondisi nonlinier.
4.    Kondisi Linear dan Nonlinear

5.    Struktur Ketat Dan Longgar
Struktur longgar tidak berarti bahwa keputusan, tindakan, dan program yang berlaku tidak berhubungan, tetapi mereka hanya longgar terkait satu sama lain (Maret dan Simon, 1958: 176). Secara umum ada hubungan yang ketat antara tujuan yang dinyatakan dan kebijakan, keputusan dan tindakan yang berlangsung dalam suatu organisasi.
6.    Komitmen dan Kinerja Biasa dan Luar Biasa

Berlatih manajemen tradisional mampu untuk mendapatkan guru untuk melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan tetapi tidak bisa mendapatkan hasil yang luar biasa. Ada dua alasan mengapa teori dan praktek management tradisional terbatas untuk mencapai tujuan minimum, tidak maksimum. Pertama, teori ini didasarkan pada otoritas birokrasi dan pribadi. Kedua, teori manajemen tradisional, dengan akar birokrasi, adalah sangat bias terhadap standarisasi dan rutinisasi. Standardisasi dan rutinisasi mungkin rumus untuk pekerjaan sederhana yang berlangsung dalam lingkungan yang stabil di mana hasil yang sederhana dapat diterima, tetapi tidak berlaku untuk komitmen dan kinerja yang luar biasa.

Postingan Terbaru

info
>