Resensi Buku The Principalship A Reflective Practice Part 2



Resume Buku
The Principalship A Reflective Practice Perspective 

Chapter 7 - 9

" Sebuah Inspirasi untuk menjadi Kepala Sekolah yang baik"





Bab 7
LEVEL KEPEMIMPINAN: SEBUAH SUDUT PANDANG PERKEMBANGAN

A.      Sumber-sumber Kewenangan untuk Kepemimpinan
Tantangan untuk para kepala sekolah ialah memberikan kepemimpinan yang dibutuhkan untuk mencapai kompetensi dasar dan kemudian kompetensi ini untuk mendapatkan kometmen yang luar biasa dan kinerja yang tidak hanya adanya hadiah. Kepemimpinan ini dibedakan dengan pendekatan tradisional pada umumnya dan sumber daya manusia untuk kepemimpinan
1.        Kepemimpinan tradisional
Kepemimpinan tradisional menekankan pada hirarki, aturan, dan manajemen protokoler dan mempercayakan birokrasi untuk menghubungkan orang-orang dalam bekerja.
2.        Sumber daya kepemimpinan
Sumber daya kepemimpinan menekankan pada gaya kepemimpinan, suasana yang mendukung, dan ketrampilan interpersonal dan kepercayaan kepada hubungan psikologi terhadap motivasi orang untuk bekerja.
3.        Kepemimpinan yang mengikat
Kepemimpinan yang mengikat menekankan pada ide, nilai, dan kepercayaan hubungan moral terhadap dorongan orang untuk bekerja.
Berikut ini adalah sumber kewenangan dan hubungannya dengan praktik kepemimpinan.
1.        Kewenangan birokrasi
Asumsi ketika menggunakan sumber daya ini antara lain guru adalah bawahan dalam sebuah sistem hirarki, pengawas dapat dipercaya namun tidak dapat dipercaya bawahan, tujuan dan kepentingan guru dan pengawas tidak sama.

2.        Kewenangan pribadi
Asumsi ketika menggunakan sumber daya ini antara lain tujuan dan kepentingan guru dan pengawas tidak sama tapi dapat saling bertukar mendapatkan apa yang diinginkan, guru memiliki kebutuhan dan jika kebutuhan tersebut dapat terpenuhi ditempat kerja, pekerjaan akan dilakukan secara bertukar, hubungan yang menyenangkan dan suasana interpersonal harmonis membuat guru lebih mudah untuk bekerja dan cenderung dapat kerja sama.
3.        Kewengan moral
Asumsi ketika menggunakan sumber daya ini antara lain sekolah adalah komunitas pembelajaran yang profesional, masyarakat sebagai pusat nilai-nilai bersama, kepercayaan, dan komitmen.
B.       Level Kepemimpinan
James McGroger Burns mengidentifikasi menjadi dua jenis kepemimpinan yaitu kepemimpinan transaksional dan transformatif.
1.        Kepemimpinan transaksional
Gaya kepemimpinan transaksional fokus pada motif dasar dan motivasi ekstrinsik dan kebutuhan. Gaya kepemimpinan ini pemimpin sebagai barter.
2.        Kepemimpinan transformatif
Gaya kepemimpinan transformatif fokus pada faktor intrinsik, motivasi moral dan kebutuhan. Gaya kepemimpinan transformatif adalah pemimpin sebagai pembangun, pemimpin sebagai pengikat, dan pemimpin sebagai ikatan.
C.      Mengapa Pemimpin Mengikat dan Terikat dengan Kerja?
Alasan pemimpin mengikat dan terikat kerja adalah:
1.        Kepala sekolah disejajarkan dengan sebuah pandangan sekolah bekerja secara aktual.
2.        Kepala sekolah adalah dasar sebuah teori rasionalitas manusia dengan mempertinggi keduanya yaitu individu dan organisasi, intelegensi dan penampilan.
3.        Kepala sekolah menanggapi kebutuhan psikologi dan spritual bahwa pemimpin untuk komitmen yang tinggi, penampilan, dan kepuasan.
Shulman (1989) memberikan tiga gambaran rasioanlitas manusia yaitu:
1.        Manusia adalah rasional
2.        Manusia terbatas pada rasionalitasnya
3.        Manusia adalah rasional hanya ketika bertindak bersama
D.      Gaya Kepemimpinan
Hasil studi Pitcher mengungkapkan ada tiga pola dasar, yaitu:
1.        Pemimpin sebagai seniman
Pemimpin adalah visioner yang brilian, berorientasi pada orang, pemikiran yang terbuka dan intuisi yang tajam.
2.        Pemimpin sebagai pengrajin
Pemimpin adalah mudah empati dan pembangun orang yang efektif, memberdayakan yang ada, dan orang yang mempunyai ketrampilan baik.
3.        Pemimpin sebagai teknokrat
Pemimpin adalah orang yang brilian namun cenderung berlebihan emosi dan meskipun jlimet dan susah tetap bisa mengatur orang secara efektif.
E.       Gagasan Dasar Kepemimpinan
Ketika nilia-nilai dan kepercayaan menjadi dilembagakan kedalam manajemen sekolah maka manajemen ilmu pengetahuan, kewenangan hirarki, keterampilan interpersonal, dan kepribadian akhirnya dilampui sebagai pemimpin yang mengelola kebutuhan sekolah dan anggotanya. Kepala sekolah tidak menjadi kurang penting, hanya berbeda kepentingan. Di satu sisi kepala sekolah menjadi pamong nilai-nilai yang ada di sekolah, dan disisi lain kepala sekolah menjadi seorang administrator bagi orang yang bekerja membantu komitmennya di sekolah.
Kepala sekolah bertanggung jawab untuk melayani semua kebutuhan sekolah yang dilayaninya, artinya dengan memberikan nilai-nilai dan tujuan sekolah. Kepala sekolah melayani dengan memberikan pertolongan dan pelayanan kepada orang tua, guru, dan siswa. Kepala sekolah melayani dengan memberikan dorongan bahwa semuanya menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.
BAB 8
MENJADI SEBUAH KOMUNITAS PEMIMPIN
Menjadi pemimpin efektif dibutuhkan sumber daya yang penuh. Ketika seorang pemimpin tidak cukup bijaksana, maka tidak akan cukup memimpin dalam suatu pekerjaan. Permasalahan ini tidak hanya pada guru. Kepala sekolah juga dihadapkan dengan sumber daya yang rendah. Bukan hanya persoalan bagaimana mereka berusaha menjadi pemimpin, namun ketika kebijakannya dapat disepakati sehingga menjalankan kepemimpinannya.
A.      Isu-isu Praktis
Dalam studi literatunya Lieberman & Miller (1986) menemukan bahwa banyak upaya untuk memperbaiki sekolah menjadi terkenal berdasarkan realita sosial dalam kelas yang terungkap dalam kehidupan guru dan pekerjaannya. Diantaranya berikut ini.
1.        Menentukan waktu untuk belajar
2.        Mambangun kolaborasi dan kerja sama melibatkan semua pihak untuk bekerja bersama, berdiskusi bersama, saling memperhatikan.
3.        Menggunakan pengetahuan sebagai jalan untuk membantu orang tumbuh menjadi lebih baik.
4.        Memberikan apresiasi terhadap segala upaya untuk pengembangan.
5.        Mendukung upaya pengembangan dengan menjaga ide, ekspetasi.
6.        Berbagi fungsi kepemimpinan dalam sebuah tim, dan lain sebagainya.
B.       Kepemimpinan Sebagai suatu Praktik
Pada sekolah yang sukses, struktur organisasi dipromosikan secara otoritas sesuai dengan kemampuan. Di sekolah-sekolah dan sekolah di dearah perlu adanya otoritas secara resmi terkait dengan posisi seseorang dalam organisasi. Bennis & Nanus (1985) mengingatkan bahwa untuk mendapatkan dukungan manajemen memastikan orang-orang yang mengerjakan pada waktu yang sama melakukan hal yang benar untuk mengajar dan belajar.
C.      Nilai Kepemimpinan Baru untuk Kepala Sekolah
Menjadi sebuah komunitas para pemimpin perlu mengadopsi nilai-nilai kepemimpinan yang baru, seperti berikut ini.
1.        Menawarkan dan berbagi nilai-nilai
2.        Membangun pengikut
3.        Memungkinkan orang lain berfungsi secara otonom berdasarkan tujuan bersama
4.        Pandangan pemimpin sebagai kekuatan untuk menyelesaikan
5.        Menempatkan kolegalitas pertama
6.        Kontrol kualitas pemahaman
7.        Nilai kesederhanaan
8.        Merefleksi tindakan
9.        Kepemimpinan dengan kemarahan
10.    Membangkitkan kemarahan pada orang lain
D.      Penyeberan Kepemimpinan
Memandang kepemimipinan sebagai sebuah aktivitas kelompok yang saling terkait untuk sebuah praktik yang lebih baik dari aktivitas secara invidu untuk membantu seseorang sesuai dengan keahlian yang dimiliki berdasarkan masalah dan situasi yang dihadapi. Jika kepemimpinan adalah suatu praktik bersama maka harus didistribusikan ditempat yang tepat dengan waktu dan situasi yang tepat serta dilakukan sesuai dengan kemampuannya.
E.       Kepemimpinan Kontstruktivistik
Lambert (1995) mendefinisikan kepemimpinan sebagai penyertaan sebuah proses timbal balik yang memungkinkan anggota masyarakat sekolah untuk membangun pengertian pemimpin terhadap tujuan bersama. Kunci dari kepemimpinan konstruktivistik adalah membangun kapasitis semua orang dalam sekolah.
F.       Sebuah Komunitas Pemimpin
Rost (1991) memberikan definisi kepemimpinan yaitu suatu pengaruh terhadap suatu hubungan bersama pemimpin dan pengikut yang berniat perubahan nyata yang mencerminkan tujuan bersama. Definisi ini mengandung empat elemen kunci, yaitu:
1.        Hubungan didasarkan pada pengaruh.
2.        Pemimpin dan pengikut adalah orang-orang yang ada pada hubungan ini.
3.        Pemimpin dan pengikut berniat pada perubahan yang nyata.
4.        Pemimpin dan pengikut membangun tujuan bersama.
Kepemimpinan dapat berkembang ketika pemimpin dan pengikut memandang satu sama lain saling percaya (kredibilitas). Kredibilitas meliputi lima C (5 C), yaitu character, courge, competence, composure, dan caring.


BAB 9
KARAKTERISTIK SEKOLAH SUKSES
A.      Efektivitas dan Sekolah Sukses
Sekolah efektif dan sekolah baik adalah sama. Sering digunakan secara bergantian untuk menjelaskan atau mengomunikasikan pada sekolah yang memiliki level sama dalam pencapaian atau prestasi.
Pada studi yang dilakukan oleh MacBeath (1995) di Inggris dengan jumlah responden 638, studi ini untuk mengidentifikasi indikator dari sekolah baik. Studi ini dilakukan dengan bertanya kepada siswa, guru, orang tua, manajemen sekolah, staf pendukung, dan anggota dewan gubernur. Berikut ini adalah hasil dari studi yang dilakaukan oleh MacBeath dan tim.
1.        Guru
a.         Komunikasi yang baik antar staf
b.        Staf pengembang yang baik
c.         Lingkungan kerja baik
d.        Menyenangkan dan motivasi baik terhadap murid
e.         Membantu semua murid untuk meraih apa yang diinginkannya.
2.        Orang tua
a.         Suasana yang menyenangkan dan bersahabat
b.        Komunikasi yang baik dari staf kepada murid
c.         Disiplin
d.        Memberikan waktu yan lebih dengan murid
e.         Hubungan yang baik antara guru dan orang tua.
3.        Siswa
a.         Hubungan antar murid baik
b.        Setiap murid diperlakukan adil
c.         Suasana yang bersahabat
d.        Guru memberikan kontrol kelas namun tidak terlalu ketat
e.         Guru membantu ketika siswa dalam keadaan yang tidak baik.

4.        Manajemen sekolah
a.         Murid-murid nyaman
b.        Semua anggota sekolah bekerja bersama ke arah yang objektif
c.         Kualitas informasi yang tinggi diberikan kepada orang tua dan pengunjung
d.        Aturan diterapkan secara merata dan adil
e.         Murid dibantu dalam meraih apa yang diinginkan
5.        Staf pendukung
a.         Sumber daya yang baru
b.        Kelas yang bersih, hangat, dan nyaman
c.         Dukungan staf diberikan setiap saat
d.        Lingkungan yang bersahabat dan nyaman
e.         Pengembangan staf meliputi semua staf
6.        Anggota dewan gubernur
a.         Reputasi yang baik dengan masyarakat setempat
b.        Kepemimpinan yang kuat dari manajemen
c.         Lingkungan yang menyenangkan dan nyaman
d.        Murid dibantu dalam menemukan dan menaasah potensinya
e.         Tempat yang aman untuk murid dan guru.
B.       Karakteristik Sekolah Sukses
Hasil studi literatur yang dilakukan Duttweiler’s (1988, 1990), menunjukan karakteristik sekolah yang efektif muncul seperti berikut ini.
1.        Berpusat pada siswa
2.        Menawarkan banyak program pendidikan
3.        Menyediakan instruksi yang mempromosikan pembelajaran siswa
4.        Mempunyai iklim sekolah yang positif
5.        Mendorong interaksi secara kolektif
6.        Memiliki staf pengembang secara ekstensif
7.        Praktik bersama kepemimpinan
8.        Mendorong pemecahan masalah yang kreatif
9.        Melibatkan orang tua dan masyarakat
C.      Pers Akademik dan Masyarakat
Pers akademik dan masyarakat merupakan faktor penting dalam mempromosikan siswa berprestasi. Keduanya berkontribusi untuk mengembangkan dan menguatkan karakter suatu organisasi sekolah. Para peneliti percaya personalisme sebagai sebuah ukuran dalam masyarakat. Personalisme mengacu pada sejauh mana siswa merasa diketahui pribadinya dan dijaga. Pers akademik mengacu pada sejauh mana harapan dikomunikasikan dengan kuat bahwa siswa akan bekerja dengan intelktual yang menantang, persiapan untuk masuk ke kelas, dan menyelesaikan semua tugas.
Sebring & Bryk (1996) meletakan dasar bahwa keduanya pers akademis dan personalisme mempunyai pengaruh yang signifikan pada siswa terlibat secara akademis daripada hanya satu faktor atau faktor lain saja. Keterlibatan akademik dianggap sebagai prasyarat untuk prestasi siswa. Hubungan antara pers akademik, personalisme, dan keterlibatan akademik digambarkan seperti di bawah ini.
Gambar 1. Pengaruh pers akademik dan personalisme
dalam keterlibatan akademik di SD
D.      Pentingnya Karakter
Foster & Gendler (1990) memberikan bukti hubungan antara sekolah karakter dan sekolah efektif. Studi ini dilakukan di 13 sekolah yang ada di New York dan Wasinghton, D.C. Peneliti menemukan bahwa banyak sekolah yang sukses mempunyai keunikan, bersih, dan mempunyai tujuan yang simpel tapi jelas dalam meningkatkan akademis dan sikap siswa, memberikan kenyamanan, perhatian, dan menyusun kebutuhan yang diperlukan sekolah untuk meraih prestasi.
Hasil analisis penelitian, Hill & Celio (1998) mengidentifikasi sekolah efektif meliputi ukuran sekolah kecil, personalia, keinginan besar dari siswa, kolaborasi seluruh guru, simpel, fokus, dan kurikulum yang sesuai, pemimpin yang sigap, perilaku siswa yang sopan, dukungan keluarga, dan dukungan sebaya.